PENGUMUMAN HASIL ATAU NILAI UKG

Posted by SERBA SERBI GURU on Friday, October 30, 2015


Dalam dialog yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan tema tunjangan profesi guru (TPG) di Semarang, Jawa Tengah mengemuka usulan dari beberapa pihak agar pengumuman hasil atau nilai  uji kompetensi guru (UKG) 2015 bisa dikirim ke sekolah dan orang tua siswa sehingga sekolah dan orang tua siswa mengetahui kompetensi guru-guru di sekolah.




Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud, Sumarna Surapranata mengatakan, dalam publikasi/pengumuman hasil atau nilai UKG tahun lalu ada sekitar 1,6 juta guru yang mengikuti UKG. Dari jumlah itu, hanya 192 guru yang mendapatkan rentang nilai 90-100. "Sedangkan nilai rata-rata nasional hanya 42," ujar Pranata saat menjadi narasumber dalam Dialog Pendidikan di Semarang, Jawa Tengah, (12/10/2015).

Pranata mengatakan, UKG dijadikan merupakan potret atau pemetaan kompetensi guru, yang hasilnya juga bisa diketahui orang tua siswa. "Sampaikan aja ke siswa atau ke orang tua. Supaya mereka juga tau, ini memang sekolahnya bagus. Ini perlu didororng. Buktinya di sini tadi ada yang bilang ikut UKG tidak serius. Guru asal-asalan karena tidak ada pengaruhnya (ke tunjangan profesi)," katanya.

Kepala Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, A.T Soegito mengatakan, ia mengamati selama ini tunjangan profesi guru atau program sertifikasi belum sejalan dengan kompetensi guru. TPG yang diterima guru tidak disertai peningkatan kualifikasi atau kompetensi mengajar. "Sebenarnya ada tiga hal pokok yang seharusnya berhubungan, yaitu kelulusan uji sertifikasi, peningkatan kesejahteraan, dan peningkatan kualitas dan profesionalisme," katanya.

Sekitar 100 peserta menghadiri Dialog Pendidikan di Kota Semarang, Jawa Tengah. Sebagian besar peserta merupakan guru dan kepala sekolah. Hadir juga jajaran Kemendikbud dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. Para peserta sangat antusias dalam sesi tanya jawab dengan Dirjen GTK Kemendikbud maupun Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Nur Hadi Amiyanto. Nur Hadi mengatakan, jika terdapat masalah dalam program sertifikasi atau tunjangan profesi, guru dapat melaporkan ke dinas pendidikan. Selanjutnya dari dinas pendidikan akan melakukan koordinasi dengan Kemendikbud, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), dan Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK), dalam hal ini Universitas Negeri Semarang.

Ia juga mengapresiasi kehadiran Pranata sebagai Dirjen GTK dalam Dialog Pendidikan itu. Apalagi, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merupakan pimpinan daerah yang interaktif dengan warganya melalui media sosial. Sehingga banyak guru yang menyampaikan langsung masalahnya ke gubernur melalui media sosial. "Ini salah satu wujud keseriusan pemerintah untuk memberikan layanan lebih baik," ujarnya. (Desliana Maulipaksi)

PGRI Keberatan atas rencana Pengumuman / Publikasi Hasil atau Nilai UKG
Wacana pemerintah dalam hal ini Kemendikbud untuk mempublikasikan pengumuman hasil atau nilai UKG 2015 rupanya mendapat tantangan dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Sebagaimana diberitakan Republika, ketua umum PB PGRI Sulistiyo menyarankan agar hasil Uji Kompetensi Guru tidak dipublikasikan. Hasil UKG sebaiknya hanya disampaikan kepada pihak yang berkepentingan saja seperti kepala sekolah. 

Sulistiyo mengatakan, hasil atau nilai  UKG yang kecil dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan orang tua siswa terhadap guru. Misalnya, bagaimana kalau seorang guru hasil UKG nilainya rendah dan diketahui oleh orang tua siswa maka akan mengurangi kepercayaan orang tua siswa kepada guru tersebut. Hal ini tentu akan mempermalukan guru itu sendiri. UKG tidak menentukan tingkat kualitas seorang guru. Kepribadian seorang guru sulit diuji menggunakan tes UKG. Apalagi sekarang guru honorer akan diwajibkan mengikuti UKG. Menurutnya hal ini patut dipertanyakan sebab selama ini guru honorer tidak pernah mengikuti pelatihan dan pembinaan.

Menurut Sulistiyo hasil atau nilai UKG tidak mampu menggambarkan kemampuan guru secara utuh. UKG tidak bisa digunakan untuk menguji kepribadian guru sebab yang diujikan hanya kemampuan pedagogik dan profesionalitas saja. Padahal, dua hal itu sangat mempengaruhi kinerja guru. PGRI setuju jika ada Uji Kompetensi Guru namun harus mengukur ke empat aspek kemampuan guru tersebut, yakni pedagogik, professional, sosial dan kepribadian.


Dalam pelaksanaan UKG tahun 2015, guru akan mengerjakan sebanyak 80 soal dengan waktu 120 menit. Adapun komposisi instrumen materi tes adalah 24 soal atau sekitar 30% kompetensi pedagogik sedangkan siswanya sebanyak 56 soal atau sekitar 70% berisi kompetensi profesional.

Apakah guru dapat melihat pengumuan nilai hasil UKG 2015? Seperti pelaksanaan UKG tahun 2012 yang lalu, setelah selesai ujian guru dapat melihat hasil UKG. Kalau pada tahun 2012, cara melihat hasil UKG guru dapat langsung melihat nilai hasil UKG. Sedangkan cara melihat hasil UKG untuk berapa tahun 2015 ini guru hanya dapat mengetahui jumlah soal yang dijawab benar dan berapa soal yang dijawab salah. Jadi Nilai hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015 secara online dapat langsung dilihat oleh guru setelah menyelesaikan ujian melalui sistem Computer Based Test (CBT) tersebut, nilai hasil UKG yang diperoleh guru akan ditampilkan yang berupa hasil kompetensi pedagogik dan kompetensi professional


Soal kompetensi profesional merupakan soal yang berakitan dengan bidang studi yang diujikan sesuai dengan bidang studi sertifikasi sedangkan bagi guru yang belum sertifikasi disesuaikan dengan kualifikasi akademik guru. Sesuai dengan kisi-kisi materi UKG 2015 yang dirilis Kemendikbud ada tiga mapel UKG bagi guru SD, yaitu guru kelas rendah, guru kelas tinggi, dan guru Penjaskes. Sedangkan soal kompetensi pedagogik merupakan salah satu jenis kompetensi yang mutlak harus dikuasai guru. Kompetensi ini pada dasarnya adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang merupakan kompetensi khas, yang akan membedakan guru dengan profesi lainnya dan akan menentukan tingkat keberhasilan proses dan hasil pembelajaran.






= Baca Juga =



Blog, Updated at: 5:28 PM

1 comments:

  1. Guru muda yang belum lama lulus dari Universitas LPTK (keguruan) dan Universitas non LPTK (non keguruan) yang ikut UKG 2015 juga menurut pantauan saya pribadi nilainya banyak sekali yang hanya mampu menjawab benar sekitaran 50-60 dari 100 soal UKG, atau bahkan kurang dari itu. Tidak signifikan bedanya dengan hasil UKG 2015 guru2 senior, alias podho wae - sami mawon. Berarti kalau menjustifikasi bahwa para guru tersebut kualitasnya jelek -berdasarkan rendahnya perolehan hasil nilai UKG 2015nya- apakah tidak sama saja dengan mempersoalkan kualitas dosen dan kredibilitas Universitas-universitas pencetak guru-guru tersebut? Khusus untuk guru yang PNS, apa juga sama artinya dengan meragukan validitas dan realibilitas test CPNS seleksi masuk guru2 yang PNS tersebut, sehingga tidak mampu mendapatkan input guru PNS yang kompeten. Tertuduh yang lain adalah proses sertifikasi guru atau PLPG. PLPG yang memang cuma sebentar apakah berarti patut dipertanyakan kualitasnya, termasuk juga ujian akhir pasca PLPG untuk mendapatkan sertifikasi guru juga akan diragukan. Karena faktanya bahwa guru yang sudah sertifikasi, perolehan nilai UKG 2015nya juga pada umumnya lebih jelek dari guru2 muda yang belum sertifikasi. Jika tidak demikian, lalu apakah permasalahnya mungkin di instrumen test/test UKG 2015nya itu sendiri?

    ReplyDelete

Search This Blog

Loading...

STATISTIK BLOG

Download

Download

Download Prota, dll

-----------------------------------

DOWNLOAD Modul GP

Kumpulan Soal

CB